Tenggelamnya Kampung Linayalu dan Kampung Niarte= Linayalu Nore Niarte nalora= the drowning Linayalu and Niarte Village
Jondes Tipak, Jondes; Upa Tina Lakburlawal, Upa; Laura Maitimu, S.Pd., Laura; Evi Olivia Kumbangsila, Evi
Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bernama Lowiru Mawiru di sebuah desa bernama Niarte. Sebuah kampung lama desa Luhuleli yang terletak di pesisir selatan pulau Letti dekat laut Nakne. Sedangkan, Linayalu adalah desa tetangga, yang terletak di sebelah utara desa Niarte. Konon cerita, di desa tetangga itu hidup seorang gadis, parasnya sangat cantik dan rajin pula, namanya Po’ki Main mempunyai seorang hamba namanya Hurihera WehrueraLowiru Mawiru kemudian meminang Po’ki Main menjadi istrinya.
Suatu ketika, sang istri pun bermimpi, melihat desa tempat tinggal mereka tenggelam ke dasar laut. Dia terkejut dan terbangun lalu membangunkan suaminya, Itu hanyalah bunga tidur,” tegas sang suami. Malam itu, karena mata Po’ki Main tak kunjung lelah, selalu memikirkan mimpi itu, dia pun memutuskan untuk menenun. Dia mengambil alat pemutar benang dan mulai memintal hingga tengah malam. Angin pun mulai berhembus tenang. Sembari memintal, segera dia menggulung benang yang telah terpintal. Ternyata alat pintal yang terjatuh di tanah telah berubah warna menjadi merah dan alat pintal itu ternyata telah berlumuran lumpur. Dia berlari mendapati suaminya untuk menyampaikan mimpinya benar terjadi. Tetapi sumai tak menghiraukan, akhirnya dengan berat hati sang istri dan sang hamba. Kemudian mereka mendaki gunung, saat tiba di puncak gunung itu mereka mendengar bunyi yang sangat keras. Saat pagi menjelang, Po’ki Main dan hambanya tidak melihat sesuatu di Linayalu dan Niarte, hanya lautan biru dengan pemandangan yang mengerikan karena kedua desa itu tenggelam ke dasar laut secara bersama-sama beserta isi desa itu. Yang lebih menyakitkan lagi karena desa itu juga tenggelam bersama suaminya yang terkasih Lowiru Mawiru. Air mata Po’ki Main mengalir dan tak terbendung saat menatap lautan biru itu. Ia pun menangis. Namun, apa mau dikata segalanya telah terjadi.
Suatu ketika, sang istri pun bermimpi, melihat desa tempat tinggal mereka tenggelam ke dasar laut. Dia terkejut dan terbangun lalu membangunkan suaminya, Itu hanyalah bunga tidur,” tegas sang suami. Malam itu, karena mata Po’ki Main tak kunjung lelah, selalu memikirkan mimpi itu, dia pun memutuskan untuk menenun. Dia mengambil alat pemutar benang dan mulai memintal hingga tengah malam. Angin pun mulai berhembus tenang. Sembari memintal, segera dia menggulung benang yang telah terpintal. Ternyata alat pintal yang terjatuh di tanah telah berubah warna menjadi merah dan alat pintal itu ternyata telah berlumuran lumpur. Dia berlari mendapati suaminya untuk menyampaikan mimpinya benar terjadi. Tetapi sumai tak menghiraukan, akhirnya dengan berat hati sang istri dan sang hamba. Kemudian mereka mendaki gunung, saat tiba di puncak gunung itu mereka mendengar bunyi yang sangat keras. Saat pagi menjelang, Po’ki Main dan hambanya tidak melihat sesuatu di Linayalu dan Niarte, hanya lautan biru dengan pemandangan yang mengerikan karena kedua desa itu tenggelam ke dasar laut secara bersama-sama beserta isi desa itu. Yang lebih menyakitkan lagi karena desa itu juga tenggelam bersama suaminya yang terkasih Lowiru Mawiru. Air mata Po’ki Main mengalir dan tak terbendung saat menatap lautan biru itu. Ia pun menangis. Namun, apa mau dikata segalanya telah terjadi.
Detail Information
- Publisher
- Kantor Bahasa Provinsi Maluku
- Tahun
- 2021
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2023-12-04T04:27:32Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Karya Umum
Filsafat
Agama
Ilmu-ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu-ilmu Murni
Ilmu-ilmu Terapan
Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
Kesusastraan
Geografi dan Sejarah