• Beranda
  • Tentang Kami
    Sejarah Visi dan Misi Tata Tertib Jam Layanan Fasilitas Pustakawan Struktur Organisasi Berita Perpustakaan
  • Layanan Perpustakaan
    Layanan Baca di Tempat Layanan Sirkulasi Layanan Referensi Layanan Penelusuran Informasi Layanan Bimbingan Literasi Informasi Layanan Ekstensi
  • Layanan Referensi
    Layanan Meja Informasi Layanan Bimbingan Penggunaan Koleksi Referensi Layanan Penelusuran Layanan Konsultasi Layanan Kesiagaan Informasi
  • Keanggotaan
    Area Anggota Buku Tamu Survey Kebutuhan Survey Kepuasan Pendaftaran Anggota Online FAQ
  • OPAC
  • Pilih Bahasa : Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu
Semua Komputer Filsafat Agama Sosial Bahasa Sains Teknologi Seni Sastra Sejarah

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
  1. Perpustakaan Jaya Abhipraya
  2. Katalog
  3. Jejak Kerajaan Gowa
REPOSITORY ITEM
Repositori Kemendikdasmen
Kembali

Jejak Kerajaan Gowa

Purnamasari, Nurul Adliyah; Andika, Saputra

Kerajaan Gowa atau yang lebih dikenal dengan Kerajaan Makassar pada masa lampau memiliki posisi yang cukup penting, karena menjadi pusat pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Bahkan daerah ini menjadi pusat persinggahan pedagang, baik yang berasal dari Indonesia Bagian Timur maupun Indonesia Bagian Barat. Sehingga kemudian Kerajaan Makassar mampu berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan di Nusantara.
Kerajaan Gowa mengalami kemajuan di bidang ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa’risi Kallonna, yang kemudian pusat Kerajaan Gowa dipindahkan dari Bukit Tamalate ke Somba Opu. Di sana beliau membangun dermaga yang menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Maritim terkenal dan bandar transito. Selain itu, untuk memperkuat pertahanan dan kedudukan istana di Somba Opu, Karaeng Tumapa’risi Kallona memerintahkan untuk membangun sebuah benteng dari tembok tanah yang mengelilingi istana pada tahun 1525. Pada tahun 1605 seorang Raja dari Minangkabau yang dikenal dengan Datu’ri Bandang datang ke Gowa dengan tujuan menyebarkan islam di wilayah tersebut. Sehingga pada tanggal 20 September 1605 Raja Gowa XIV, I Mangerangi Daeng Manrabia menyatakan masuk Islam sehingga beliau mendapat gelar “Sultan Alauddin”. Sebelumnya juga Raja Tallo, Mangkubumi (Perdana Menteri) Kerajaan Gowa I Malingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka lebih dahulu masuk islam, sehingga bergelar Sultan Abdullah Awalul Islam.
Sejak Ibukota Somba Opu menjadi bandar niaga international yang dirintis oleh Karaeng Tumaparisi Kallona pada abad XV, sebenarnya Bangsa Eropa yang gemar rempah-rempah sudah menjalin hubungan dagang dengan Gowa. Bangsa-bangsa Asing seperti Inggris, Denmark, Portugis, Spanyol, Arab Dan Melayu telah mendirikan kantor-kantor perwakilannya di Somba Opu untuk kepentingan perdagangan. Selanjutnya terjadi penandatangan Perjanjian Bongaya antara pihak Belanda dan Sultan Hasanuddin pada tanggal 18 Nopember 1667, akibatnya terjadi suatu pertempuran dahsyat di bulan juni 1669, yang cukup banyak menelan korban antara kedua pihak, pihak Belanda berusaha merebut benteng utama pertahanan Gowa di Somba Opu. Akhirnya bentengpun berhasil diduduki oleh Belanda 12 Juni 1669.
Perkembangan selanjutnya setelah Sultan Hasanuddin, Raja-Raja Gowa masih terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bukti gigihnya perlawanan terhadap Belanda adalah sejumlah Raja Gowa, seperti raja gowa XVII Sultan Muhammad Ali (Putera Sultan Hasanuddin) gugur dalam tahanan belanda di Batavia pada tahun 1680. Ketika berakhirnya perang antara Sultan Hasanuddin dengan Belanda, terutama sejak pusat Kerajaan Gowa di Somba Opu hancur, maka sejak itu keagungan Gowa yang berlangsung berabad-abad lamanya akhirnya mengalami kemunduran. Semenjak itu pula penjajahan Belanda mulai tertanam secara penuh di Kawasan Timur Indonesia.
Sistem pemerintahan Gowa pun mengalami tansisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang, setelah menjadi bagian republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, Gowa berubah dari bentuk kerajaan menjadi daerah tingkat II otonom. Sehingga dengan perubahan tersebut, maka Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai raja gowa terakhir sekaligus pula merupakan Bupati Gowa pertama.
Detail Information
Publisher
Balai Arkeologi Sulawesi Selatan
Tahun
2020
Bahasa
id
Last Updated
2020-12-30T09:58:10Z
Subjects / Keywords
Kebudayaan Arkeologi
Akses Dokumen
Lihat di Repository Asli
Hak Cipta & Lisensi

Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.

Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).

Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.

Perpustakaan Jaya Abhipraya
Perpustakaan Jaya Abhipraya
  • Masuk sebagai Admin
  • Download Buku Panduan Aplikasi

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Statistik Pengunjung

Hari ini 188
Online: 188 Onsite: 0
Bulan ini 24.793
Online: 24.080 Onsite: 713
Total 142.710
Online: 30.977 Onsite: 111.733

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek


© 2026 — Berbasis SLiMS | Dikelola oleh ePERPUS WhatsApp

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik

Isilah satu atau lebih bidang di bawah ini untuk mempersempit pencarian Anda

Kemana ingin Anda bagikan?
Beranda OPAC Login Daftar